Minggu, 26 Januari 2014

Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar ke-5

Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar ke-5

Catatan Akhir Pekan Alex Iskandar ke-5
Oleh: Alex Iskandar 

Satu Pekan ini saya sibuk dengan berbagai kegiatan baik sosial kemasyarakatan atau kembali pada beberapa aktivitas membaca yang cukup intens. Berjumpa dengan berbagai peristiwa yang saya ambil pelajaran dan merasakan akan getaran zauq yang mungkin masih multitafsir.

Tetangga saya telah berpulang ke hadirat Allah swt. dan ini seakan-akan menghentak nurani saya dan kembali sadar akan begitu singkatnya hidup ini. Ayat-ayat kematian seakan kembali berngiang-ngiang dihati. Nasihat baginda Rasul-pun menari di pelupuk mata. Setiap diri akan merasakan mati. Kematian merupakan suatu keniscayaan yang tak terbantahkan. Dan semua ambisi duniawi telah pupus. Titel akademis seakan tak berarti, harta yang banyak tak dibawa, istri yang cantik hanya mengantar hingga bibir pusara, dan anak-anak menjadi yatim. Kenapa kita selama ini tertipu dan tak mau mengingat kematian yang akan menghidupkan hati. Tidakkah cukup sengatan kematian menghentakkan hati kita? Tidakkah cukup kematian sebagai nasihat. Bahwa dunia hanyalah tempat transit sementara untuk kembali kerumah sejati, rumah abadi yang sering kita sebagai pengembara gurun dunia ini lupa akan asal-usul kita, tujuan kita, dan tempat kembali kita?

Pada hari yang pasti itu, ketika nama kita diabsen satu persatu oleh malaikat Izrail, dijemput untuk pulang, dengan berbagai macam cara dan sebab. Kita semua pasti akan kembali. Dan inilah kesadaran penuh akan istirja' yang kita ucapkan, Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji'uun. Kita ini milik Allah dan kepada-Nya-lah kita kembali. Semua akan terperanjat dari tidur panjangnya. Kita akan sadar betapa dunia memang tak lebih berharga dari sayap nyamuk dan bangkai kambing. Kemegahan yang kita banggakan telah tersingkap sebagai tipuan fatamorgana yang menyihir mata. Susah payah kita mengumpulkan harta demi menggapai kesenangan hidup, ternyata harta sesungguhnya hanyalah kain kafan. Rumah yang kita bangun bak istana, ternyata rumah yang kita tinggali hanya seluas 2x1 meter, itu pun hanyalah tumpukkan tanah bisu. Isteri yang sejak muda kita pilih yang tercantik, ternyata isteri yang menemani dalam kubur hanyalah amal ibadah. Kendaraan yang kita beli adalah yang paling mahal dan mewah, ternyata kendaraan yang paling berjasa mengantar kita ke alam barzakh hanyalah kurung batang yang sederhana, tanpa bensin dan polusi, dan suara bisingnya hanyalah tahlil sanak saudara yang mengantar. Di dunia dengan kecerdasan luar biasa kita memanipulasi berbagai pengadilan dunia, hakim-jaksa kita sogok, dan hukum bisa di atur dengan berpedoman kepada Keuangan yang berkuasa, seperti tiap senin membacakan teks Pancasila, ternyata tim Assesor di perut bumi tidak bisa disogok dengan uang, karena mereka tak makan dan kawin. Robot yang sudah diprogram akan tugasnya yang pasti. Mungkar-Nakir, memberikan ujian yang harus jawabannya benar. Bagi yang menjawab benar, akan diberikan piagam num naumatal 'Arus, tidurlah seperti malam pengantin. Bagi yang jawabannya meleset, akan masuk ruang hampa dan sempit penuh siksa hingga tulang rusuk bersilang. Setelah itu, menunggu hari berbangkit dalam kondisi demikian.
Suasana di Kp. Putat
Pada hari Kamis, sekolah saya mengadakan baksos untuk Korban Banjir. Ada tiga titik banjir yang kami datangi. Pengarengan, Putat, dan Garon. Saya bersyukur sekaligus terenyuh melihat penderitaan saudara-saudara saya yang terendam banjir. Bersyukur diberi kekuatan untuk bisa sedikit membantu dan terenyuh karena belum bisa berbuat lebih. Kita memang membutuhkan air, tapi jika air terlalu banyak, maka kita akan kerepotan. Kita memang butuh api, tapi jika terlalu banyak, maka habislah rumah-rumah dan hutan. Gempa-pun kemarin telah melanda Kebumen, Masjid ambruk, hati saya kembali sesak. Rekan senoir saya mengatakan mengutip ayat Al Qur'an, lihatlah kembali sejarah dunia. Kaum-Kaum sebelummu. Kaum Aad, Kaum Tsamud, Kaum Lut, Kaum Nuh, dan juga Ashabul Ukhdud. Banjir bisa karena dakwah ulama sudah tak didengar. Gempa bisa karena banyak homosex, lesbian dan freesex. Meletusnya gunung bisa karena pemurtadan. Para pemimpin lalim pun harus ingat nasib Fir'aun. Kekuasaan dan kegagahan raja Mesir tenggelam dalam himpitan laut merah. Merah ibarat darah rakyat yang mereka Korupsi. Jika tak tobat, maka siapkan jasadmu dalam kemarahan rakyat Indonesia. Saya masih bertanya-tanya, masihkah ada putra bangsa yang benar-benar pemimpin sejati??? saya memang awam politik, tapi kepedihan hidup rakyat kecil adalah bukti ketidakberesan instansi pemerintah bangsa besar ini. Pemimpin adalah penggembala rakyat, jika wedus-wedus kurus kerempeng kurang makan, kenapa penggembala malah sibuk dengan main Playstation di istana.

Hidup itu sebentar. Maka tulislah sejarah hidupmu yang indah untuk kami kenang.
Dengarlah jeritan hati kami sebagai wong cilik.
 Gelombang bencana datang dari segala penjuru buana, maka siapkan perahu besar yang bernama Indonesia Sejahtera,
yang jadi impian kami selama ini.
Mengkondisikan negeri ini menjadi baldatun toyyibatun warobbun ghafuur.
Menjadi Pemimpin negara sekaligus pelayan rakyat yang sejati.
Menjadi ayah yang baik untuk anak-anak muda yang akan mengguncang dunia.
Menjadi Pembimbing untuk mengolah tanah surga yang ada di dunia.
Indonesia adalah Surga, tetapi rakyatnya masih berada di Neraka.
Bilakah surga Indonesia, menjadi surga seutuhnya????

Ojo Dumeh....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar